Sidoarjo, JAWA TIMUR – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa akurasi bantuan sosial (bansos) kini berada di tangan perangkat desa. Dalam sosialisasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) di Sidoarjo, Jumat (6/2), Gus Ipul menuntut profesionalisme total dari operator desa sebagai ujung tombak pendataan.
Ia memperingatkan bahwa digitalisasi DTSEN hanya akan menjadi macan kertas jika data yang diinput dari level bawah tidak akurat.
Soroti Kompetensi Operator: Butuh Pelatihan, Bukan Sekadar Input
Gus Ipul mendesak Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk segera bertindak meningkatkan kompetensi para operator desa. Menurutnya, kesalahan input data bukan hanya soal teknis, tapi berdampak pada nasib warga miskin yang haknya terabaikan.
“Saya berharap Bupati Sidoarjo memberikan pelatihan serius bagi operator desa. Mereka adalah penentu keakuratan DTSEN. Jangan sampai data berantakan karena petugas tidak kompeten,” tegas Gus Ipul.
Pembaruan Data Real-Time: Tiap Hari Diolah, Tiap Bulan Diawasi
Kemensos kini menerapkan sistem pembaruan data yang jauh lebih agresif untuk memangkas celah penyaluran bansos yang salah sasaran:
- Update Harian: Data diperbarui setiap hari dan langsung diolah oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
- Siklus Tiga Bulanan: Seluruh data disatukan dalam laporan periodik tiga bulanan untuk verifikasi total.
- Partisipasi Publik: Masyarakat diberikan ruang untuk menyanggah, mengkritik, dan mengusulkan nama penerima melalui aplikasi Cek Bansos atau jalur formal di Dinas Sosial.
Sentil Moralitas Penerima: “Kalau Sudah Mampu, Mengakulah”
Selain perbaikan sistem, Gus Ipul menyentil kesadaran moral masyarakat. Ia mengimbau warga yang sudah keluar dari kategori kemiskinan ekstrem (desil terendah) untuk berani jujur dan memperbarui data pribadinya secara mandiri.
“Kami ingin masyarakat yang sudah mampu secara sadar keluar dari daftar. Berikan kursi Anda untuk keluarga lain yang jauh lebih membutuhkan,” pungkasnya.








