Labuhan Batu Selatan, SUMATERA UTARA – Harapan masyarakat di perbatasan Desa Bunut dan Desa Pangarungan untuk memiliki akses transportasi yang layak kini mulai menemui titik terang. Sebuah langkah nyata kolaborasi antara Kepolisian Resor (Polres) Labuhanbatu Selatan, pemerintah daerah, dan sektor swasta resmi dimulai melalui prosesi peletakan batu pertama pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi di Dusun Bunut Pekan, Desa Bunut, Kecamatan Torgamba, Rabu (22/4).
Pembangunan jembatan ini menjadi tonggak sejarah baru bagi mobilitas warga setempat. Selama bertahun-tahun, ketiadaan infrastruktur penghubung yang memadai telah menjadi kendala utama bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga urusan sosial kemasyarakatan. Kini, melalui inisiatif “Presisi”, Polri mencoba menjawab kegelisahan tersebut dengan menghadirkan solusi fisik yang menyentuh langsung kebutuhan dasar publik.
Realisasi Kepedulian dan Sinergi Lintas Sektoral
Kapolres Labuhanbatu Selatan, AKBP Aditya S.P. Sembiring, S.I.K., melalui Kapolsek Torgamba AKP Sunipan Gurusinga, S.H., menegaskan bahwa proyek ini merupakan manifestasi dari fungsi Polri sebagai pengayom masyarakat yang peduli terhadap kesejahteraan daerah. Dalam sambutannya, AKP Sunipan menekankan bahwa infrastruktur ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar konstruksi beton dan baja.
“Jembatan ini bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan jembatan harapan. Kami ingin memastikan bahwa ke depannya, denyut nadi ekonomi, akses pendidikan bagi anak-anak, dan interaksi sosial warga dapat berjalan lebih lancar, cepat, dan yang terpenting adalah aman,” ujar AKP Sunipan Gurusinga di hadapan para tokoh masyarakat.
Ia juga menggarisbawahi bahwa keberhasilan proyek ini merupakan buah dari sinergi yang apik antara institusi kepolisian, Pemerintah Kecamatan Torgamba, dan pihak swasta, dalam hal ini PT Asam Jawa. Menurutnya, pola kolaborasi seperti inilah yang harus terus dirawat demi percepatan pembangunan di wilayah Labuhanbatu Selatan.
Target Konstruksi dan Kapasitas Infrastruktur
Pihak swasta yang terlibat langsung dalam pembangunan, PT Asam Jawa, menunjukkan komitmen serius dalam penyelesaian proyek ini. Perwakilan manajemen, melalui Kabag MPU Widodo dan Kabag Humas Yusuf Bahari Nasution, S.Pd., menyampaikan bahwa pengerjaan akan dilakukan secara intensif agar dapat selesai tepat waktu.
Berdasarkan spesifikasi teknis yang direncanakan, pengerjaan struktur utama jembatan ditargetkan rampung dalam waktu 20 hari sejak peletakan batu pertama. Namun, untuk menjamin keamanan dan kekuatan konstruksi sesuai standar teknik, jembatan diperkirakan baru dapat dilalui kendaraan secara umum setelah 41 hari pengerjaan. Infrastruktur ini dirancang cukup kokoh untuk menampung kendaraan dengan beban maksimal hingga 7 ton, yang artinya sangat mendukung bagi mobilitas truk pengangkut hasil pertanian warga.
Apresiasi dari Akar Rumput
Kegembiraan tidak dapat disembunyikan dari raut wajah warga Dusun Bunut Pekan. Pj Kepala Desa Bunut, Agus Pardamaian Panjaitan, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah menginisiasi program ini. Senada dengan itu, tokoh agama Tuan Guru Khalifah Kamal Harun Nasution, yang memimpin doa dalam prosesi tersebut, berharap agar pembangunan berjalan tanpa hambatan berarti.
“Selama ini kami sangat kesulitan melintas, terutama saat membawa hasil panen. Kendala akses seringkali membuat biaya angkut menjadi tinggi. Dengan adanya jembatan ini, beban kami terasa jauh lebih ringan,” ungkap salah seorang warga yang hadir dengan nada haru.
Prosesi peletakan batu pertama ditutup dengan acara makan bersama yang simbolis, mencerminkan kerukunan dan semangat gotong royong antara aparat penegak hukum, pemerintah, perusahaan, dan rakyat. Kehadiran Jembatan Merah Putih Presisi diharapkan tidak hanya menjadi penghubung antar-desa, tetapi juga menjadi simbol pengabdian yang abadi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat di pelosok Torgamba.











