Kendal, JAWA TENGAH – Proyek Koperasi Merah Putih di Desa Kediten, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal, mendadak menjadi sorotan tajam netizen setelah video lokasinya di lereng Gunung Prau viral. Berada di ketinggian 900 hingga 1.100 mdpl, proyek ini menuai kritik pedas karena dinilai kurang perencanaan dan dituding berpotensi menjadi “tengkulak gaya baru” bagi masyarakat setempat.
Menanggapi polemik yang berkembang, Kepala Desa Kedaten, Rudi Alfaruq, angkat bicara memberikan klarifikasi terkait pemilihan lokasi yang dianggap kontroversial oleh sebagian pihak.
Jawaban Atas Kritik Lokasi dan Perencanaan
Rudi menegaskan bahwa pembangunan di lereng gunung tersebut bukan tanpa alasan teknis. Menurutnya, titik tersebut merupakan simpul strategis yang mempertemukan mobilitas warga dari empat dusun utama, yakni Krajan, Doplang, Kenteng, dan Bukitsari.
“Lokasi ini strategis karena berada di jalur yang dilalui masyarakat dari empat dusun. Kondisi geografis kami memang di ketinggian, dan ini adalah titik temu aktivitas warga,” jelas Rudi saat dikonfirmasi, Kamis (23/4/2026).
Mengenai sindiran pembangunan yang “asal jadi”, pihak desa menekankan bahwa orientasi utama koperasi adalah fungsi distribusi kebutuhan primer pertanian, bukan sekadar estetika bangunan.
Memutus Rantai Tengkulak di Wilayah Bawah
Salah satu visi besar yang diusung melalui koperasi ini adalah kemandirian ekonomi petani. Selama ini, petani di lereng Prau kerap merugi akibat biaya transportasi yang tinggi dan harga jual yang dipermainkan saat harus membawa hasil panen ke wilayah bawah.
Koperasi Merah Putih diproyeksikan hadir untuk:
- Penyediaan Pupuk: Menjamin ketersediaan input pertanian yang selama ini menjadi kendala utama petani.
- Stabilisator Harga: Menjadi pembeli siaga (off-taker) untuk hasil bumi seperti jagung dan kopi agar petani mendapatkan harga yang lebih adil.
- Kearifan Lokal: Menyesuaikan dengan pola konsumsi unik warga lereng yang masih mengandalkan nasi jagung dan kayu bakar.
Visi Barter Antardaerah
Lebih jauh, Rudi mengungkapkan ambisi jangka panjang untuk membangun sinergi ekonomi antardaerah melalui sistem barter. Desa Kediten berencana membuka kerja sama dengan wilayah pesisir untuk mendatangkan komoditas ikan yang akan ditukar dengan hasil pertanian pegunungan.
“Kami ingin koperasi ini dikelola oleh warga sendiri agar tepat sasaran. Fokusnya adalah agar petani tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh hanya untuk menjual hasil panen dengan harga murah,” tegas Rudi.
Meski diterjang kritik di media sosial, Pemerintah Desa Kediten tetap optimis bahwa kehadiran koperasi di lereng gunung tersebut akan menjadi motor penggerak ekonomi yang menjawab kebutuhan nyata warga, bukan sekadar simbol pembangunan.










