Pidie Jaya, ACEH – Pasca diterjang banjir susulan pada Rabu malam (8/4/2026), warga di sejumlah kecamatan di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, kini mulai berjuang membersihkan sisa-sisa material lumpur yang masuk ke dalam rumah. Meski air telah surut, ancaman banjir berulang masih menghantui warga akibat kondisi tanggul yang hanya bersifat sementara.
Pemukiman Terendam Akibat Tanggul Jebol
Banjir yang melanda kawasan ini dipicu oleh hujan deras di hulu Sungai Meureudu. Debit air yang tinggi membuat tanggul darurat—yang hanya terbuat dari gundukan tanah bekas sisa banjir November 2025 lalu—tak kuasa menahan arus hingga akhirnya jebol dan menggenangi pemukiman warga.
Plh Kepala Pelaksana BPBD Pidie Jaya, Okta Handipa, mengonfirmasi bahwa masyarakat yang sempat mengungsi kini telah kembali ke kediaman masing-masing.
“Masyarakat sudah kembali ke rumah dan mulai membersihkan lumpur lagi. Besok kami akan mengerahkan alat berat untuk membersihkan badan jalan desa yang masih tertutup lumpur tebal,” ujar Okta saat dikonfirmasi, Jumat (10/4/2026).
Daftar Wilayah Terdampak
Sebanyak 13 desa di dua kecamatan dilaporkan terendam banjir berulang ini:
- Kecamatan Meureudu: Desa Manyang Cut, Beurawang, Meunasah Lhok, dan Masjid Tuha.
- Kecamatan Meurah Dua: Desa Meunasah Mancang, Meunasah Raya, Blang Cut, Dayah Usen, Pante Beureune, Gampong Blang, Meunasah Bie, Geunteng, dan Meunasah Teungoh.
Desakan Pembangunan Tanggul Permanen
BPBD Pidie Jaya menekankan bahwa penanganan darurat tidak lagi cukup. Dangkalnya dasar Sungai Krueng Meureudu serta tersumbatnya saluran drainase warga membuat wilayah ini menjadi langganan banjir setiap kali hujan deras melanda wilayah hulu.
Okta berharap Pemerintah Pusat segera mengambil langkah konkret dengan membangun infrastruktur penahan air yang lebih kokoh.
“Kami meminta pemerintah pusat segera membangun tanggul permanen. Tanpa penanganan serius, banjir akan terus berulang karena sungai sudah dangkal dan tanggul tanah tidak akan mampu bertahan lama,” pungkasnya.















